Páginas

Bisakah Pengurus YLPI Ibadurrahman kembali Mengemban Risalah Ilahiyyah ?

Sabtu, 08 September 2012

TDB, Sukabumi -- Sejarah kehadiran Pesantren Ibadurrahman, Tegalega, Kota Sukabumi berawal dari ghirah tokoh-tokoh masyarakat setempat  yang meminta KH. Dadun Abdulqahhar (alm.) untuk berdakwah karena konon daerah Tegallega dan sekitarnya, saat itu, adalah basis Partai Komunis Indonesia (PKI), penganut faham komunis dan  Animisme.

Menurut sumber yang dapat dipercaya, saat itu, yakni tahun 1964 atas usul Bapak Ali Basri dari Lembursitu (alm.) dan H. Ahmad Dasuki Tegallega kepada KH. Dadun Abdulqahar (alm.) -- Pimpinan Yayasan Adda’wah, Cibadak Kabupaten Sukabumi untuk mendirikan sebuah Pesantren di Tegallega Lembursitu Kecamatan Baros dengan induk ‘Yayasan Da'wah’.

Sekalipun pembangunan komplek pesantren itu belum memenuhi seperti yang direncanakan, namun tahun 1967 sudah mulai difungsikan. Mengenai pengelolaannya diserahkan kepada kakak beliau, KH. Acun Mashur (Alm.), dengan dibantu adiknya, KH. Abdul Malik (Alm.), yang dilanjutkan oleh KH. Fatullah Mansur  yang lebih dikenal dengan Abah Fatah hingga sekarang.

Sementara, Para wakif yang mengikhlaskan tanahnya untuk pesantren, menurut sumber tersebut  antara lain : H. Hasbullah, H. Ahmad Dasuki, H. Ahmad Faqih, H. Mukhtar dan lain-lain. Diatas tanah itulah, lanjut sumber, kemudian dibangunlah mesjid, rumah untuk Kiyai dan asrama untuk mondok para santri.

Pada saat pondok didirikan, KH Acun bertugas di pesantren Syamsul-ulum untuk membantu mengembangkan pondok yang didirikan oleh kakak kandung beliau, KH Amad Sanusi. Sedangkan  KH Dadun Abdulqahhar sudah mengembangkan pesantren Ad-Da'wah di Cibadak, dan KH Abdul Malik tinggal di Bogor.

“Ketiga orang inilah yang diminta oleh masyarakat Tegallega untuk mengembangkan pesantren”. Kenang sumber itu.

Dikatakan, di jaman serba moderen saat ini, realita keberadaan fahanm-faham yang diungkap sebelumnya  sudah tiada, namun bentuk penghambaan terhadap materi dan hedonisme, sudah meraksuki hati para pemeimpin. Tak terkecuali pemimpin yayasan atau pondok pesantren yang notabene mengemban amanah risalah ilahiyah, “seperti yang terjadi sejak zaman reformasi ini”, tambahnya.

Bahkan tak jarang para ustadz, mualim hingga para kiyai, terjerumus kepada lubang, ranah politik demokratis yang terlihat jelas menyimpang  dari prinsif dasar tugas dan fungsi keberadaan mereka sebagai pengemban amanah risalah ilahiyah.

“Ya, kemungkinan seperti halnya yang terjadi kepada yayasan tersebut kini”. Ungkap alumnus Pondok Pesantren (ponpes) Ibadurrahman angkatan pertama  yang identitasnya minta dirahasiakan.  Demikian pula menurut keterangan keterangan yang berhasil dihimpun media ini dari para alumnus YLPI angkatan pertama lain.

“Salah satu penyebab kemunduran YLPI dari segi pendidikan non formal, seperti pondok pesantren inipun, diduga karena pengurus yayasan sudah terhipnotis oleh kepentingan politis”, ungkapnya. “Kini tergantung kepada para pengurus atau pengelola, bisakah ia kembali mengemban risalah Ilahiyyah, seperti yang digagas para pendahulunya?", tanya salah seorang alumnus angkatan pertama ponpes YLPI tegalega, yang identitasnya minta dirahasiakan, kepada media ini, beberapa waktu lalu.

Oleh karenanya, khawatir akan keberaadaan tersebut, para alumni, khususnya alumni Pondok Pesantren Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Tegalega, kota Sukabumi yang peduli terhadap almamaternya tengah  menggagas pertemuan alumni akbar bertema ‘Merajut sillah, menyulam ukhuwah & Meraih mardlotillah’.

Sedangkan mengenai kepastian kapan dan dimana pertemuan tersebut akan dilaksanakan, mereka belum bisa memastikannya. “Yang jelas pada saatnya nanti, insya-Allah semuanya akan kami undang”, pungkasnya. (Red)


0 komentar:

Posting Komentar

Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

 
Tabloid Duta Bangsa 3 | by TNB ©2010