Páginas

1 2 3 4
Tampilkan postingan dengan label lintas agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lintas agama. Tampilkan semua postingan

Bisakah Pengurus YLPI Ibadurrahman kembali Mengemban Risalah Ilahiyyah ?

TDB, Sukabumi -- Sejarah kehadiran Pesantren Ibadurrahman, Tegalega, Kota Sukabumi berawal dari ghirah tokoh-tokoh masyarakat setempat  yang meminta KH. Dadun Abdulqahhar (alm.) untuk berdakwah karena konon daerah Tegallega dan sekitarnya, saat itu, adalah basis Partai Komunis Indonesia (PKI), penganut faham komunis dan  Animisme.

Menurut sumber yang dapat dipercaya, saat itu, yakni tahun 1964 atas usul Bapak Ali Basri dari Lembursitu (alm.) dan H. Ahmad Dasuki Tegallega kepada KH. Dadun Abdulqahar (alm.) -- Pimpinan Yayasan Adda’wah, Cibadak Kabupaten Sukabumi untuk mendirikan sebuah Pesantren di Tegallega Lembursitu Kecamatan Baros dengan induk ‘Yayasan Da'wah’.

Sekalipun pembangunan komplek pesantren itu belum memenuhi seperti yang direncanakan, namun tahun 1967 sudah mulai difungsikan. Mengenai pengelolaannya diserahkan kepada kakak beliau, KH. Acun Mashur (Alm.), dengan dibantu adiknya, KH. Abdul Malik (Alm.), yang dilanjutkan oleh KH. Fatullah Mansur  yang lebih dikenal dengan Abah Fatah hingga sekarang.

Sementara, Para wakif yang mengikhlaskan tanahnya untuk pesantren, menurut sumber tersebut  antara lain : H. Hasbullah, H. Ahmad Dasuki, H. Ahmad Faqih, H. Mukhtar dan lain-lain. Diatas tanah itulah, lanjut sumber, kemudian dibangunlah mesjid, rumah untuk Kiyai dan asrama untuk mondok para santri.

Pada saat pondok didirikan, KH Acun bertugas di pesantren Syamsul-ulum untuk membantu mengembangkan pondok yang didirikan oleh kakak kandung beliau, KH Amad Sanusi. Sedangkan  KH Dadun Abdulqahhar sudah mengembangkan pesantren Ad-Da'wah di Cibadak, dan KH Abdul Malik tinggal di Bogor.

“Ketiga orang inilah yang diminta oleh masyarakat Tegallega untuk mengembangkan pesantren”. Kenang sumber itu.

Dikatakan, di jaman serba moderen saat ini, realita keberadaan fahanm-faham yang diungkap sebelumnya  sudah tiada, namun bentuk penghambaan terhadap materi dan hedonisme, sudah meraksuki hati para pemeimpin. Tak terkecuali pemimpin yayasan atau pondok pesantren yang notabene mengemban amanah risalah ilahiyah, “seperti yang terjadi sejak zaman reformasi ini”, tambahnya.

Bahkan tak jarang para ustadz, mualim hingga para kiyai, terjerumus kepada lubang, ranah politik demokratis yang terlihat jelas menyimpang  dari prinsif dasar tugas dan fungsi keberadaan mereka sebagai pengemban amanah risalah ilahiyah.

“Ya, kemungkinan seperti halnya yang terjadi kepada yayasan tersebut kini”. Ungkap alumnus Pondok Pesantren (ponpes) Ibadurrahman angkatan pertama  yang identitasnya minta dirahasiakan.  Demikian pula menurut keterangan keterangan yang berhasil dihimpun media ini dari para alumnus YLPI angkatan pertama lain.

“Salah satu penyebab kemunduran YLPI dari segi pendidikan non formal, seperti pondok pesantren inipun, diduga karena pengurus yayasan sudah terhipnotis oleh kepentingan politis”, ungkapnya. “Kini tergantung kepada para pengurus atau pengelola, bisakah ia kembali mengemban risalah Ilahiyyah, seperti yang digagas para pendahulunya?", tanya salah seorang alumnus angkatan pertama ponpes YLPI tegalega, yang identitasnya minta dirahasiakan, kepada media ini, beberapa waktu lalu.

Oleh karenanya, khawatir akan keberaadaan tersebut, para alumni, khususnya alumni Pondok Pesantren Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Tegalega, kota Sukabumi yang peduli terhadap almamaternya tengah  menggagas pertemuan alumni akbar bertema ‘Merajut sillah, menyulam ukhuwah & Meraih mardlotillah’.

Sedangkan mengenai kepastian kapan dan dimana pertemuan tersebut akan dilaksanakan, mereka belum bisa memastikannya. “Yang jelas pada saatnya nanti, insya-Allah semuanya akan kami undang”, pungkasnya. (Red)


Ler Mais

Indonesia kirim penghafal Alquran ke Dubai

Illustrasi: Al-Qur'an

TDB (JAKARTA) -- Indonesia mengirimkan penghafal Alquran (AlHafiz), Mohammad Muchtar Dzulhilmi, 13 tahun, untuk mengikuti "The 16th Session Dubai International Holy Quran Award (DIHQ) 2012" di Dubai, Uni Emirat Arab (UAE) yang diselenggarakan Komite Dubai International Holy Quran dan dibuka sejak Jumat (27/7) lalu.

Siaran pers Kedutaan Besar RI di Abu Dhabi yang diterima di Jakarta, Kamis, menyebutkan acara itu diikuti 88 negara, termasuk Indonesia.

Pada kompetisi ini, Dzulhilmi yang masih duduk di kelas VI di satu madrasah, didampingi oleh Jamaludin Noor, dari Kementerian Agama. Dzulhilmi berhasil melalui proses seleksi awal untuk sampai pada tahap putaran final.

Dzulhilmi mendapatkan giliran pada Selasa (31/7), bersaing ketat dengan peserta dari Spanyol, Aljazair, Qatar, Sudan, Kongo, Barbados dan Papua Nugini.

Juri berasal dari Mesir, India, Qatar, Arab Saudi dan Indonesia.

Pada tahap seleksi akhir, penampilan Dzulhilmi dapat dikatakan memuaskan dan tidak terlihat gugup. Dari tiga hafalan surat yang diajukan oleh para juri, hanya terdapat satu kesalahan kecil. Namun hal ini belum menjadi penentu kemenangan karena di hari-hari berikutnya masih ada peserta lain yang masih mengikuti proses seleksi final.

Untuk sampai pada putaran final, para peserta harus lulus tes awal yang dilakukan oleh para juri asal UAE. Tes bertempat di hotel tempat mereka menginap. Jika lulus maka peserta dapat maju ke putaran final yang diselenggarakan di gedung Dubai Chamber of Commerce dan dapat disaksikan oleh masyarakat luas secara langsung baik di tempat acara maupun berbagai media TV di UAE.

Para juri untuk putaran final berasal dari negara selain UAE. Pada tahun ini diundang pula juri Indonesia yaitu Dr. Haji Said Agil Husin Al Munawar, mantan Menteri Agama RI.

Dubes RI untuk UAE, Salman Al Farisi yang hadir bersama dengan staf KBRI Abu Dhabi dan KJRI Dubai pada malam itu memberikan semangat kepada peserta asal Indonesia.

Dalam wawancara dengan media setempat, Dubes Salman menyatakan bahwa kompetisi ini sangat bermanfaat bagi kemajuan Islam, khususnya mendorong Al Hafiz di usia muda dan mengapresiasi dukungan penuh dari penguasa Dubai sekaligus Wakil Presiden UAE, Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum.

Bagi Indonesia, katanya, kompetisi ini menjadi wahana bagi para Al Hafiz Indonesia untuk mengasah kemampuannya.

Dubes menyatakan dia sangat kagum dan bangga dengan kemampuan Dzulhilmi yang masih sangat muda namun sudah hafal Al Quran dan berharap kali ini Indonesia dapat mengantongi juara dan menunjukkan keberadaan Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Pengumuman sekaligus penutupan DIHQ 2012 akan dilakukan pada 9 Agustus 2012. Pemenang pertama hingga ketiga akan mendapat hadiah sebesar masing-masing sebesar Dh. 250.000, Dh. 200.000, Dh. 150.000 atau setara dengan Rp600 juta, Rp480 juta dan Rp360 juta. Sementara untuk Al Hafiz yang berada di posisi ke-4 hingga ke-10 besar mendapatkan hadiah antara Dh 35-65 ribu (Rp 84 juta-Rp156 juta), dan yang berhasil masuk putaran final mendapatkan uang senilai Dh. 30 ribu (Rp72 juta).

Di sela waktu kosong keikutsertaan Dzulhilmi di ajang ini, KBRI Abu Dhabi dan KJRI Dubai memanfaatkan dia untuk memberikan pengetahuannya kepada anak-anak dan masyarakat Indonesia di UAE sehingga memotivasi anak-anak Indonesia di UAE untuk lebih giat belajar Alquran.
(ANT)
Ler Mais
 
Tabloid Duta Bangsa 3 | by TNB ©2010